anamrufisa

Ana Monica Rufisa

Oleh-oleh dari Sumatera

“Hidup ini adalah pilihan”. Ini ungkapan yang klise memang. Tapi jika kamu seorang wanita dan memakai kerudung lalu bekerja di salah satu tempat makan yang pemiliknya non-muslim, pengunjungnya pun kebanyakan orang non-muslim, apa yang ingin kamu katakan?

Hidupmu nyaman teman, kau punya banyak teman yang selalu mengingatkan untuk beribadah. Tapi di sini agak berbeda. Hanya suara adzan dan diri sendirilah yang menjadi alarm pengingat ibadah dan juga rem untuk tidak berbuat maksiat. Aku merasakannya, ketika menunggu kapal ferry datang, aku menyempatkan mampir di kedai sederhana di dekat pelabuhan Urung. Aku melihat tidak ada meja yang kosong, lalu ada kakek tua yang mengarahkanku untuk masuk ke dalam. Aku pun berjalan ke dalam kedai, menyeruak di antara orang-orang sipit dan berkulit putih. Entah apa yang sedang mereka perbincangkan, aku tak pandai berbahasa mandarin. Aku duduk, lalu beberapa detik kemudian ada seorang gadis berkerudung yang mendatangiku, “Mau pesan apa?” katanya sambil tersenyum. Ah, lega… Aku tidak sendirian. Setidaknya aku berjumpa dengan saudara seiman. Gadis melayu rata-rata mengenakan kerudung, tapi di sini lebih banyak pendatang yang berdarah cina, hal ini yang kadang membuatku sedih. Orang pribumi menjadi budak di negeri sendiri.

Aku memesan teh obeng (teh manis hangat) dan roti prata (bumbu kari). Inilah makanan sehari-hari penduduk sini. Mungkin lebih lengkap jika ada kawan ngobrol. Lalu, aku teringat dengan pelayan berkerudung tadi, ia tak pernah mengeluh kepada Tuhan yang telah menempatkan dirinya di tengah-tengah orang yang berbeda suku, agama, dan bahasa. Gadis itu tersenyum dan melayani siapa saja yang datang ke kedai.

Pukul 9.00, sepertinya kapal yang menuju Tanjung Balai sudah menepi, aku pun meninggalkan kedai itu, dan tak lupa melayangkan senyuman kepada gadis berkerudung tadi. Dalam diam gadis itu telah mengajariku. Pulau ini pun telah mengajariku banyak hal, salah satunya kerukunan dalam keberagaman. Islam, Konghucu, Katolik, Protestan, Budha, bahkan Hindu, mereka sangat menghargai perbedaan, perbedaan yang membuat mereka bersatu. Mereka terbiasa dengan dupa-dupa dan segala bentuk persembahan. Mereka terbiasa dengan lagu puji-pujian. Dan mereka terbiasa dengan suara adzan. Tak ada yang protes, tak ada yang merasa terganggu. Bahkan mereka ikut masak ketupat dan saling mengirimkan makanan dengan rantang, tradisi “Munjung” namanya.

***

Aku melangkah di kapal kecil yang padat penumpang. Kapal ferry di sini sudah seperti metro mini di Jakarta. Inilah uniknya wilayah kepulauan, ke sana ke mari harus naik kapal laut. Kedengarannya asik, tapi repot juga. Harus benar-benar sigap jika tak mau ‘nyemplung’ ke laut. Berpegangan tangan dengan orang yang bukan mahrom pun sudah biasa, karena memang kita tidak bisa menahan berat badan sendiri ketika melangkahkan kaki dari kapal ke bibir pelabuhan. Dan akhirnya aku tiba di Tanjung Balai. Ke rumah saudara mama. Kesan pertama: panas menyengat. Tapi aku sangat menikmati perjalanan jauhku ini. Tak ada busway di sini, dan ada kabar gembira: tak ada macet!

Tanjung Pinang, 14 September 2010

February 18th, 2012 2 notes
  1. ariescrmfx reblogged this from anamrufisa
  2. anamrufisa posted this