anamrufisa

Ana Monica Rufisa

Sepotong Kapur 22 Februari

Ada anak kelas 8 memperingati saya, “Ms. Ana sudah siap tisu?” saya bilang, “Saya tidak akan menangis di kelas ini”. Benar saja, ada anak murid yang iseng nyebarin paku payung di kelas dan ada yang mainin alat suntik yang masih ada jarumnya. Saya emosi, tapi saya rasa saya tidak butuh tisu, saya tidak butuh apapun, saya hanya perlu izin untuk menghukum mereka satu kali saja. Tapi sekali lagi saya tidak punya hak, saya hanya guru bantu. Dan guru tetap di sini hanya diam. Tuhan, apakah guru-guru di sini tidak tahu betapa bahayanya jarum suntik itu!? Jarum suntik sungguhan, bukan mainan!

Sayangnya dosen saya tidak mengajarkan bagaimana cara menangani anak murid yang bawa paku payung dan jarum suntik ke kelas.

February 22nd, 2012 6 notes
  1. qfadlan said: “Tidaklah salah seorg dianatara kalian bersabar ats kesmpitan dan kesushn hidp kecuali aku akn mnjdi pemberi syafaat dan penolong baginya (H.R Ahmad) semoga kesabarannya tidak akan pernah habis. :)
  2. muhammadakhyar said: dalam salah satu temuan disebutkan bahwa anak anak di Indonesia yang dididik dengan metode autoritarian lebih berhasil ketimbang permisif, tidak seperti di Barat. semangat bu guru :)
  3. qkaa said: sabar yaa, Bu Guru. Kesabaran itu akan menghasilkan hasil yang baik nanti-nyaa. :) Nama-nya jg anak anak Bu. :D
  4. enggarwardhani said: smgt mb mon! Enggar juga guru, guru bimbel. Kdg org2 seperti kita merasa ‘gak pantes’ buat menghukum, ya? Enggar prnh diajari sm guru lain, mgkn kita bisa ingatkan mereka dgn: “orang tua kln capek2 mnyekolahkan kln bukan agar kalian jadi seperti ini”
  5. anamrufisa posted this