Sepotong Kapur 23 Februari
Awalnya… aku seperti kehilangan akal ketika masuk ke kelas ini. Ahmet yang tiap hari selalu beralasan sakit, kemarin dia bilang kepalanya pusing, kemarinnya lagi perutnya sakit, dan hari ini ada lagi… “Ms. Ana tenggorokanku, uhuk, uhuk…” Kali ini aku tidak langsung percaya begitu saja. Aku tatap matanya dalam-dalam, lalu dia kembali ke tempat duduknya sambil menundukkan kepala, mungkin hatinya sedang menggerutu karena ia tak berhasil membohongi gurunya lagi. Ahmet berambut pirang, berkulit putih, dia asli Turki, tapi lancar sekali berbahasa Indonesia, ah bukan, bahasa Betawi! Itu karena semua temannya orang Jakarta asli.
Hari ini aku mengajarkan mereka unsur-unsur intrinsik dalam novel, dan aku mewajibkan anak-anakku membaca satu novel, apa pun itu… Ada yang berbahagia karena membaca adalah hobinya, ada yang cemberut karena buku membuat mereka takut. “Buku bukan monster…” kataku. Tapi tetap saja, sebagian dari mereka merasa buku itu sesuatu yang tidak seru. Lalu Ahmet mengacungkan tangannya.
“Ms. Ana!”
“Ya? Ahmet?”
“Novel bahasa Turki boleh?”
“Sangat boleh!”
Baru kali ini aku melihatnya begitu antusias! Alhamdulillah… akhirnya ada juga yang bisa membuat anak itu mau belajar. Tapi, aku masih banyak PR di kelas ini, salah satunya mengurusi 3 anak bule lagi: Ela, Eliv, dan Dilara. Mereka sama sekali tidak bisa berbahasa Indonesia. Guru yang sebelumnya hanya membiarkan mereka seolah-olah mereka ini hanya pajangan saja. Serba salah memang. Standar belajar bahasa Indonesia mereka tidak sama dengan teman-temannya yang asli Indonesia, dengan kata lain aku harus memberikan perhatian dan pembelajaran khusus untuk mereka.
“Eliv, for next meeting i will give you five or ten vocabulary, and you have to memorize it, you agree?”
Dia hanya mengangguk. Dan Dilara terlihat sibuk dengan novelnya, aku rasa dengan membaca novel dia sudah belajar banyak hal, itu tidak masalah buatku. Tiba-tiba ada yang menyeletuk, “Ms, kok baca novel sih? Aku males!”
“Baca ya, Nak… minimal 1 bab dari 1 buku dalam 1 minggu. Selama Ibu masih menjadi guru kalian, kalian harus membaca, apapun itu…”
Agak idealis memang, tapi itu sepertinya harus dilakukan agar anak-anak terbiasa membaca. Ayat pertama yang diwahyukan kepada Rasul kita bukankah suruhan untuk membaca? Iqra!
February 23rd, 2012 4 notes