Ana Monica Rufisa
-
P:
Hmm... sebenarnya maunya wanita itu apa?
-
W:
Kamu menanyakan pertanyaan yang sangat sulit.
-
P:
Aku tidak menanyakan soal Fisika, apanya yang sulit?
-
W:
Itu karena jawaban yang diinginkan wanita hanya dapat dimengerti oleh wanita.
-
P:
Maksudmu... apa aku harus jadi wanita dulu?
-
W:
Haha, tidak perlu! Jawabannya sangat sederhana.
-
P:
Apa itu?
-
W:
Tapi... seorang pria baru akan mengerti ketika mereka sudah tua.
-
P:
Hei hei hei. Kau tidak lihat sedang bicara dengan siapa? Sembarangan...
-
W:
Oops, maaf, becanda! Tapi betul, kan?
-
P:
Cepat, jelaskan padaku. Aku tidak mau menjadi tua sendirian.
-
W:
Haha, baiklah baik, sepertinya kau sangat ingin tahu...
-
P:
(diam)
-
W:
Yang wanita inginkan hanyalah pria yang mencintainya seperti belum pernah mencintai siapapun di dunia ini selain ibunya.
-
P:
Tidak ada yang lain lagi?
-
W:
Tidak ada yang lain yang diinginkan wanita dari hidup ini selain itu.
-
P:
(diam)
-
W:
Eh, itu busnya sudah datang. Aku pergi dulu ya!
-
P:
Baiklah, hati-hati... (melambaikan tangan)
-
*Dan wanita itu pergi... Entah kapan ia kembali...
-
P:
Tapi kau tidak pernah tahu bahwa aku mencintaimu melebihi apa yang kau bayangkan, hanya saja kau belum bisa melihatnya sekarang...
-
-anamrufisa-
February 24th, 2012
6 notes