Keluarga lain mungkin sedang menonton siaran Mario Teguh malam ini, tapi kami berdua malah asyik menonton acara masak-masak Ibu Siska di Elsinta-tv.
“Mudah bukan membuatnya?”, katanya sambil menyodorkanku piring. Itu tandanya dia mau tambah nasi. Hihihii.
“Menu malam ini mungkin tidak ada yang istimewa, tapi lihatlah siapa yang sedang menemaniku makan, selalu istimewa”, katanya lagi.
Dia punya bakat gombal, tapi tiap kali dia menggombal tidak pernah aku hiraukan, padahal hatiku girang bukan main!
Aku tak bisa merusak hening yang kami ciptakan ketika makan, untuk sementara ini biarkan sendok dan garpu yang berlagu, sebuah simfoni merdu.
Aku ingin sekali bertanya. Tapi aku takut pertanyaanku mengganggu kesakralan makan malam kami yang sudah kusiapkan sedemikian rupa sejak tadi sore, walau hanya sayur dan tempe.
Aku ingin bertanya tentang rasa. Mungkin sayurnya agak asin atau kurang asin, aku takut dia lebih menyukai sayur di warteg sebelah rumah ketimbang sayur buatanku.
Tiba-tiba dia memulai suara, “Aku kira tak ada satu makanan di meja ini yang rasanya mengurangi rasa bahagia. Tidak percaya? Coba saja tanyakan pada taplak meja.”
Sejak kapan dia bisa membaca suara hati? Mungkin sejak ia menelan sayur kurang garam yang aku buat ini!
February 26th, 2012
2 notes